TRADISI NYEKAR SEBELUM RAMADHAN – 1432H

23 - 24 JULI 2011 – TRADISI NYEKAR SEBELUM RAMADHAN

Menjadi tradisi, nyekar ke kampung kita di desa kecil di daerah Sapuran, Wonosobo, tempat Bapak almarhum dimakamkan, beberapa hari sebelum masuknya bulan Ramadhan. Bulan yang amat sangat aku cintai, bukan hanya karena suasana puasa dan berbuka puasa-nya yang seru, tapi sungguh-sungguh karena rahmat dan nikmat Islam selalu terasa lebih menusuk-nusuk kalbu.. semata karena rindu-nya hati akan ridho Allah SWT atas amal ibadah kita yang amat sangat tidak seberapa.
Di kampung masih ada mbah buyut, ibu-nya almarhum bapak, yang selalu senang tulus menyambut kedatangan cucu-cucunya, terlebih bila membawa cicit… Maka sungguh indahlah tradisi nyekar ini, semata karena saat itu ikatan silaturhami dipererat antara kita dengan keluarga yang jarang bertemu, ikatan kita dengan tanah kelahiran orang tua kita, dan membuat kita selalu merasa menjejak bumi…

Maka lestari-lah tradisi nyekar, bukan semata untuk berdoa untuk kerabat yang telah meninggal, karena sesungguhnya berdoa bisa kita lakukan dimana saja. Namun juga untuk mengikat kita kembali ke kampung tempat kita bermuasal…


Nyekar kali ini kita turun di Semarang, pertama kali-nya naik Sriwijaya Air, karena tidak tersedia tiket tujuan Jogjakarta sebagaimana rute yang biasa. Dari Semarang kita sudah dijemput, turun lewat Temanggung, Parakan, tembus di pertigaan Kretek, dan tinggal 11 kilo lagi sampai di Sapuran. Sebelum perjalanan jauh, kita mampir makan malam di Bawen, di warung pinggir jalan ala prasmanan yang enak, nikmat, gurih masakannya.



Esok harinya, kita berangkat pulang lewat Solo, naik Garuda, juga karena kepepet beli di bandara ketika berangkat kemarin. Bener-bener perjalanan pulang kampung yang kita putuskan secara impulsif.. yang pasti perjalanan pulang dengan Garuda jauuuuh lebih nikmat dari pada berangkatnya. Bangga terbang bersama Garuda Indonesia!

@4t1d

Tidak ada komentar:

Posting Komentar