Kembali ke Kuala Lumpur, kali ini kita lebih santai menikmati perjalanan dan mencermati pemandangan kota menjelang malam. Hari ini tanggal 31 Des 2010, sehingga suasana kota ramai dan gemerlap… lampu di kota dan gedung-gedung bercahaya berpendar, dan gedung Petronas yang dikenal sebagai the Twin Tower, benar-benar menjulang tinggi, bercahaya dan anggun berdiri berkilauan. Kedua gedung kembar ini sungguh pantas menjadi icon kota ini. Mungkin karena ditunjang oleh lanskap kota yang berkontur, tapi ada cukup ruang terbuka di sekeliling-nya sehingga penampilan The Twin Tower menjadi lebih menonjol dari bangunan-bangunan lain yang juga menjulang tinggi.
Dari obrol-obrol dengan penumpang yang share taxi dengan kita dari Genting, keramaian malam tahun baru yang cocok buat anak muda dengan suasana ‘party on the street’ akan berlangsung di jalan Bukit Bintang. Jalanan-nya khusus ditutup untuk party. Sempat terpikir untuk bermalam tahun baru di sana, namun karena tidak tahu arah dan kita khawatir harus membuat reservasi, dan takut tidak mendapat spot yang oke karena tidak memiliki referensi, maka kita terus saja menuju hotel Nikko di KLCC agar bisa beristirahat sejenak. Kebetulan hotel Nikko letaknya dekat sekali dengan gedung Twin Tower dan ada taman besar di belakangnya. Hmm ini pasti seperti Monas-nya kota Jakarta, dan pasti ada keriaan di sana. Setidaknya kita berharap ada pesta kembang api. Semoga…! Tapi kalaupun tidak, setidaknya kilau gedung Twin Tower dari dekat sudah cukuplah menyenangkan hati. Maka otomatis kita berniat menghabiskan malam pergantian tahun di sini.
Setelah check in dan menikmati sejenak kamar yang luar biasa indah dibanding budget permalam yang kita keluarkan, waktunya untuk mencari makan. Dari browsing sebelumnya disebutkan bahwa di jalan menuju KLCC ada restoran yang wajib dikunjungi, yaitu Nasi Kandar Pelita, yang bahkan Master Kuliner pak Bondan Winarno juga sempat mengulasnya. Dan kita sangat beruntung, ternyata tanpa kita rencanakan restoran ini ada di pinggir jalan raya dari hotel kami ke KLCC.. sehingga pasti kita lewati bila menuju ke sana. Hanya berjalan pelan tidak sampai 10 menit, kita tiba di restoran yang ramai, terang, namun sederhana. Tadinya sempat khawatir tidak ada tempat di dalam-nya, namun ternyata masih banyak tersedia kursi, karena makan di restoran ini hampir sama dengan di restoran Padang atau Warteg di tanah air. Semuanya sudah tersaji, tinggal pilih, tunjuk, dan disiapkan. Cepat, praktis, porsinya besar, masakannya seperti masakan di rumah, dan yang terpenting enak. Harganya-pun relatif murah. Pengalaman makan Nasi Kandar Pelita benar-benar nyata seperti yang diceritakan oleh orang-orang dan para pakar kuliner. Nyam-nyam…
Tanpa disadari ternyata banyak sekali orang yang datang ke taman di KLCC ini, dan tiba-tiba sudah menyemut orang dari berbagai penjuru. Perpaduan yang datang sungguh beragam dari suku bangsa, ras dan sepertinya juga kelas sosial yang beragam benar-benar bercampur baur menjadi satu di lapangan ini. Bayangkan dari orang Melayu, Bule, Cina, Arab, India, bahkan warga Afrika berlebur jadi satu dengan penampilan dari yang kasual sampai resmi dengan gaun dan jas juga ada. Dari anak-anak, bahkan bayi, kakek nenek, dan tentunya orang-orang muda yang berdandan santai sampai yang dandan abis-abisan, dari yang tertutup, sampai yang terbuka. Sehingga suasana meriah sungguh terasa sampai kemudian jam menunjukkan detik-detik pergantian tahun, dan pesta kembang api dimulai….
Terima kasih perjalanan yang berkesan, di kota gemerlap yang sekaligus bersahaja, yang telah mengajarkan untuk tetap sederhana, kendati boleh-lah sedikit angkuh bila kita dianugerahi kemudahan membangun kegemerlapan..
(sedikit saja...)

